Jumat, 21 Oktober 2022

oseng tempe kacang





Bahan:

- 1/2 papan tempe, potong kotak, goreng setengah matang dan sisihkan

- 1 ikat kecil kacang panjang, potong-potong

- 150 gr daging sapi cincang

Bumbu cincang halus:

- 3 siung bawang putih

- 8 siung bawang merah

- 2 buah cabai merah besar

- 10 buah cabai rawit

Bumbu lain:

- 2 cm lengkuas, geprek

- 3 lembar daun salam

- 1 sdm saus tiram

- 1 sdt kecap asin

- 2-3 sdm kecap manis

- Gula

- Garam

- Merica

- Kaldu bubuk

Cara membuat:

1. Tumis bumbu cincang, lengkuas, dan daun salam hingga matang.

2. Masukkan daging cincang, beri kecap asin dan saus tiram, aduk hingga merata.

3. Tambahkan air secukupnya, bumbui dengan gula, garam, merica, kaldu bubuk, dan kecap manis.

4. Masukkan tempe yang sudah digoreng, kemudian masukkan kacang panjang dan masak hingga matang.

5. Oseng tempe kacang siap disajikan.


https://www.brilio.net/oseng tempe kacang

Share:

sayur asem

Bahan:

- 1 buah labu siam sedang, potong kotak

- 5 kacang panjang

- 1 buah jagung

- 1 genggam kulit melinjo

- 1 genggam tauge kedelai

- 2 lembar daun salam

- 1 inci lengkuas, geprek

- 1 sdt asam Jawa

- Air secukupnya

Bumbu halus:

- 3 siung bawang putih

- 4 siung bawang merah

- 4 cabai merah

- 2 buah kemiri

- 1 sdt terasi

Bahan sambal:

- 10 cabai rawit

- 1 buah tomat

- 1 bawang putih

- 5 bawang merah

- 1 sdm terasi bakar

- Garam

- Gula

- Minyak secukupnya

Cara membuat:

1. Rebus air sampai mendidih, masukkan jagung, dan rebus sebentar. Kemudian masukkan sayuran lainnya.

2. Masak sayuran hingga setengah matang, kemudian masukkan bumbu halus, lengkuas, daun salam, garam, dan penyedap.

3. Masak sayur hingga matang, kemudian sajikan.

Cara membuat sambal:

1. Goreng cabai, tomat, dan bawang hingga layu.


2. Kemudian haluskan serta bumbui dengan garam dan gula.




https://www.brilio.net sayur asem


Share:

tumis buncis udang

 

Bahan:

- 100 gr udang loreng, kupas dan bersihkan

- 100 gr baby buncis, iris serong

- Garam

- Gula

- Penyedap rasa

- 1 buah cabai merah besar, iris serong

- 1 buah cabai hijau besar, iris serong

Bumbu halus:

- Cabai rawit

- Cabai keriting sesuai selera

- 2 siung bawang putih

- 4 butir bawang merah

Cara membuat:

1. Tumis bumbu halus, beri air sedikit dan masak sampai harum.

2. Masukkan buncis dan irisan cabai hijau, lalu tambahkan gula, garam, dan penyedap, aduk rata.

3. Terakhir masukkan udang, masak sampai udang berubah warna dan matang. Angkat dan sajikan.



https://www.brilio.nettumis buncis udang

Share:

Selasa, 18 Oktober 2022

baduy

 Rumah Adat Badui adalah rumah adat dari provinsi banten. Hal ini didasarkan pada rumah adat yang dimiliki oleh suku badui Suku Baduy/Badui merupakan kelompok etnis masyarakat adat suku Banten di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Bentuk rumah adat Badui sering di sebut dengan istilah Julang Ngapak

Secara umum rumah adat Badui memilki gaya bangunan seperti rumah panggung. Bahan yang bisa digunakan untuk bangunan rumah adat Badui adalah bambu. Rumah adat Badui merupakan simbol kesederhanaan dari masyarakatnya. Adapun keutamaan yang ingin didapat dari bangunan rumah ini adalah fungsi perlindungan dan kenyamanan. Selain itu semangat kekeluargaan di suku Badui masih sangat kental, sehingga dalam proses pembangunan rumah adat Badui melibatkan warga sekitar dengan cara gotong royong.

Bagian-Bagian Bangunan

Rumah adat Badui pada umumnya memiliki struktur bangunan yang tinggi menyerupai rumah panggung. Hal ini dikarenakan kontur tanah yang biasa dihuni oleh suku Badui yang tidak rata. Untuk menyesuaikan dengan keadaan ini, maka pada bagian yang miring ataupun tidak rata dan bergelombang maka biasanya masyarakat Badui meletakkan batu kali yang ditumpuk.Fungsi utama dari batu ini adalah sebagai penyangga bangunan yang dikhawatirkan tanahnya bergerak ataupun longsor. Rumah adat Badui dibangun dengan mengikuti kontur tanah tempat didirikannya bangunan. Hal inilah mengapa orang Badui sering kali disebut sangat menjaga kelestarian lingkungan.

Bagian atap dari rumah adat Badui ini terdiri atas daun yang disebut dengan sulah nyanda. Nyanda memiliki makna bersandar dalam posisi tidak lurus namun agak merebah ke arah belakang.] Hal ini terlihat dari posisi sulah nyanda yang dibuat panjang dan memiliki derajat kemiringan yang lebih rendah di bagian kerangka di bawah atap. Bagian bilik rumah dan pintu dibuat dari anyaman bambu. Anyaman ini disusun dan dianyam secara vertikal yang dikenal dengan nama sarigsig. Teknik ini dibuat berdasarkan perkiraan saja dengan tidak diukur terlebih dahulu. Adapun untuk keamanan rumah, maka pemilik rumah biasanya membuat dua buah kayu yang disusun menjadi palang sehingga bisa ditarik dan didorong dari bagian luar rumah.

Sebagian besar dan bahkan seluruh bagian dari rumah adat ini menggunakan material yang seluruhnya berasal dari alam. Tentu saja dengan tetap mempertimbangkan kelestarian alam dengan menggunakan seperlunya saja. Seluruh bangunan rumah tinggal suku Badui menghadap ke utara-selatan dan saling berhadapan.] Menghadap ke arah barat dan timur tidak diperkenankan berdasarkan adat yang berlaku di perkampungan suku Badui.

Rumah adat Badui dibagi dalam 3 bagian yaitu bagian sosoro (depan), tepas (tengah) dan imah (belakang).Bagian rumah sosoro biasanya dipergunakan tuan rumah untuk menerima kunjungan tamu. Bagian ini letaknya memanjang ke arah bagian lebar rumah. Bagian rumah selanjutnya adalah ruang tepas yang membujur ke arah bagian panjang atau ke belakang digunakan untuk acara makan atau ruangan tidur anak-anak. Tidak ada pembatas antara ruangan sosoro dan tepas sehingga kedua ruangan ini menyatu dalam bentuk huruf L yang siku. Hal ini akan dilaksanakan bersesuaian dengan rencana yang telah dirancang sebelumnya. Bagian inti dari rumah adat Badui adalah pada bagian imah. Ruangan ini memiliki fungsi yang khusus dan penting. Biasanya orang Badui menggunakannya sebagai dapur dan juga kamar tidur bagi pemilik rumah dan istri.

Beberapa ciri utama dari rumah adat Badui adalah sebagai berikut

  • Bangunan dari rumah adat Badui ini tidak boleh menyentuh tanah
  • Setiap bagian dari tiang ruang selalu disangga dengan sebuah batu
  • Dindingnya terbuat dari anyaman bambu
  • Atap rumah adat Badui terdiri atas atap kiri dan atap kanan. Bagian kiri dari atap ini biasanya memiliki ukuran yang sedikit lebih panjang.
  • Bahan ijuk ataupun daun kelapa banyak digunakan sebagai bahan atap rumah adat Badui
  • Tidak memiliki jendela
  • Lantai rumahnya terbuat dari bambu


Share:

limas

 

Rumah Limas adalah rumah tradisional Provinsi Sumatera Selatan. Gaya Rumah Limas seperti rumah panggung, memiliki lima tingkat yang berfilosofi dengan menyesuaikan geografi, dan kepercayaan masyarakat setempat.

Sesuai dengan namanya, Rumah Limas adalah rumah tradisional berbentuk limas yang dibuat dengan gaya panggung. Bangunan khas daerah Palembang ini dibangun bertingkat. Kumpulan tingkat-tingkatnya disebut masyarakat sebagai Bengkalis yang memiliki makna tersendiri. Luasan Rumah Limas berkisar mulai dari 400 hingga 1000 meter persegi, sering kali dipinjamkan pemilik rumah untuk digunakan sebagai tempat pesta pernikahan dan acara adat.

Hampir seluruh bagian dari Rumah Limas terbentuk dari kayu. Pemilihan kayu dilakukan bukan tanpa sebab, namun menyesuaikan dengan karakter kayu dan kepercayaan masyarakat di Sumatera Selatan. Uniknya, jenis kayu-kayu yang digunakan merupakan kayu unggulan dan dikabarkan hanya tumbuh subur di daerah yang beribukota di Palembang.

Untuk bagian pondasi biasanya menggunakan kayu unglen, kayu yang berstruktur kuat dan tahan air. Sedangkan bagian kerangka rumah, digunakan kayu Seru. Kayu ini cukup langka dan sengaja tidak digunakan untuk bagian bawah rumah karena dalam kebudayaan masyarakat, kayu Seru dilarang untuk diinjak dan dilangkahi.

Khusus dinding, lantai, jendela, dan pintu menggunakan kayu Tembesu, yang mempunyai keunggulan dari segi ekologi dan ekonomi. Kentalnya budaya Sumatera Selatan bisa terlihat dari seni ukiran dan ornamen pintu, dinding, maupun atap Rumah Limas yang menggambarkan nilai-nilai kebudayaan setempat. 

Rumah Limas memang mempunyai banyak filosofis yang mendalam, terdiri dari lima tingkat dengan makna dan fungsi yang berbeda-beda. Lima tingkatan ruangan diatur menggunakan filosofi Kekijing, dimana setiap ruangannya diatur berdasarkan penghuninya, yaitu usia, jenis kelamin,  bakat, pangkat, serta martabat.

Tingkat pertama atau disebut Pagar Tenggalung merupakan ruangan terhampar luas tanpa dinding pembatas. Ruangan seperti beranda ini difungsikan untuk tempat menerima para tamu yang datang pada saat acara adat. Uniknya, orang luar tidak bisa melihat aktivitas didalam ruangan. Sedangkan dari dalam bisa melihat suasana diluar. Hal menarik lainnya adalah lawang kipas atau pintu yang jika dibuka akan membentuk langit-langit ruangan.

Tingkat kedua atau disebut Jogan merupakan tempat berkumpul diperuntukkan bagi anggota keluarga pemilih rumah yang berjenis kelamin laki-laki. Masuk lebih dalam atau pada Kekijing ketiga, lebih memiliki privasi dibanding ruangan sebelumnya. Posisi lantainya lebih tinggi dan bersekat. Ruangan tingkat tiga ini hanya digunakan oleh tamu undangan khusus ketika pemilik rumah sedang mengadakan hajat.

Khusus orang yang dihormati dan memiliki ikatan darah dengan pemilih rumah, dipersilahkan untuk ke tingkat keempat. Seperti para Dapunto dan Datuk, tamu undangan yang dituakan. Terakhir, tingkat kelima atau disebut Gegajah memiliki ruangan paling luas dibanding ruangan lainnya. Ruangan ini lebih istimewa dan lebih bersifat privasi, hanya dimasuki oleh orang yang mempunyai kedudukan sangat tinggi dalam keluarga maupun masyarakat. Di dalamnya terdapat undukan lantai untuk bermusyawarah yang disebut Amben, dan kamar pengantin jika pemilik rumah mengadakan pernikahan.

Jika melihat bagian atas atap, terlihat ornamen simbar berbentuk tanduk dan melati. Selain sebagai ornamen, simbar ini berfunsi sebagai penangkal petir. Melati melambangkan keagungan dan kerukungan, simbar dua tanduk berarti Adam dan Hawa, tiga tanduk berarti matahari-bulan-bintang, empat tanduk berarti sahabat nabi, dan simbar dengan lima tanduk melambangkan rukun Islam.

Fakta menarik lainnya, Rumah Limas dibangun menghadap ke arah timur dan barat. Bagian yang mengarah ke barat disebut dengan Matoari Edop atau berarti matahari terbit yang melambangkan kehidupan baru. Sedangkan yang menghadap ke timur disebut dengan Matoari Mati yang berarti matahari terbenam atau melambangkan akhir dari kehidupan.

Kini, Rumah Limas memang sudah jarang dibangun sebagai tempat tinggal. Namun, bukan berarti sudah tidak ada lagi Rumah Limas. Setelah mengenal dan mengetahui fakta Rumah Limas, bagi pengunjung yang penasaran ingin melihat langsung rumah adat ini, bisa berkunjung ke Museum Balaputera Dewa di Jalan Srijaya Negara I, Kota Palembang. (K-MP)


https://indonesia.go.id/ragam/budaya/kebudayaan/filosofi-dibalik-uniknya-rumah-limas-sumatera-selatan


Share:

bando kanduang

 Pakaian Bundo Kanduang berasal dari Sumatera Barat, tepatnya Minangkabau. Pakaian adat ini biasanya digunakan oleh wanita yang sudah menikah dan merupakan simbol akan peran penting seorang ibu di dalam keluarga. Nama lain baju adat ini adalah Limpapeh Rumah Nan Gadang. Istilah ‘limpapeh’ memiliki arti tiang tengah pada bangunan rumah adat di Sumatera Barat.

Sesuai artinya, peran limpapeh sangat penting agar bangunan rumah gadang dapat kokoh, apabila limpapeh roboh maka rumah gadang juga akan roboh. Itu artinya peran ibu dalam sebuah keluarga sangatlah penting karena beliau berperan dalam mengurus rumah tangga. Apabila ibu tidak pandai dalam mengurus rumah tangganya maka keluarga juga tidak bisa bertahan lama.

Keunikan dari Baju Adat Bundo Kanduang

Keunikan Baju Adat Bundo Kanduang

Pakaian adat khas Minangkabau ini mempunyai keunikan tersendiri terutama di bagian penutup kepalanya yang berbentuk seperti rumah adat gadang atau tanduk kerbau. Desain pakaian adat Minangkabau tersebut dibedakan dengan setiap nagari/desa atau sub sukunya. Namun, aksesoris yang dipakai semuanya sama. Keunikannya lainnya antara lain:

1. Lambak

Istilah lambak merujuk pada perlengkapan pakaian adat Bundo Kanduang bagian bawah. Lambak biasa disebut dengan sarung namun terbuat dari songket maupun berikat. Fungsi sarung atau lambak yakni sebagai penutup bagian bawah untuk wanita.

Cara memakainya dengan diikatkan ke bagian pinggang dengan belahan yang disusun di bagian depan, belakang, atau samping tergantung dengan desa/nigari mana yang memakai pakaian adat tersebut. Kain yang digunakan yakni kain balapak dengan sulaman benang emas serta tenunan Pandai Sikat.


2. Tingkuluak

Makna tingkuluak atau tengkuluk yakni penutup kepala yang bentuknya menyerupai atap rumah gadang atau kepala kerbau. Aksesoris satu ini merupakan ciri khas pakaian adat Minangkabau yang paling kentara. Bahan yang digunakan tingkuluak yakni kain selendang. Biasanya tingkuluak digunakan ketika upacara adat maupun sehari-hari.

3. Minsie

Minsie merupakan aksesoris yang biasanya digunakan oleh wanita di bagian tepi lengan dan leher. Aksesoris tersebut berupa sulaman yang terleak di tepi baju dan terbuat dari benang emas. Minsie adalah simbol bahwa wanita Minangkabau harus patuh terhadap batasan-batasan tertentu dalam hukum adat.

4. Salempang

Salempang adalah pelengkap dalam pakaian adat Bundo Kanduang yang khusus digunakan oleh wanita yang sudah menikah. Makna salempang yaitu siap menjadi ibu serta nenek yang bisa menyampaikan suri tauladan untuk anak cucunya dengan baik. Pelengkap pakaian adat tersebut terbuat dari songket.

Salempang diletakkan di bagian Pundak. Simbol salempang menyiratkan makna bahwa wanita harus lebih waspada terhadap segala kondisi dan mempunyai welas asih terhadap anak dan cucunya. Bentuk salendang yakni empat persegi panjang dengan warna merah dengan ATBM di benang katunnya.

5. Baju Batubue

Baju batubue merupakan pakaian adat Minangkabau berupa baju kurung atau naju yang digunakan sebagai baju atasan. Baju ini disebut juga dengan baju bertabur karena hiasan bajunya bertabur pernik-pernik sulaman yang terbuat dari benang emas. Pernik-pernik tersebut adalah simbol atau lambang dari kekayaan alam yang berlimpah di tanah Minang.

Motif atau coraknya taburan benang emasnya tidak hanya satu, namun beraneka ragam yang mengisyaratkan bahwa tanah Minang gemah ripah lan jinawi. Ada empat variasi warna yang terdapat pada baju batubue. Warna-warna tersebut antara lain: hitam, merah, biru, serta lembayung. Bagian leher dan tepi lengannya terdapat hiasan yang biasa disebut Minsie.

6. Perhiasan

Perhiasan pada pakaian adat Minangkabau merupakan pelengkap pakaian adat Minangkabau yang sama seperti adat lainnya. Terdapat tambahan beberapa aksesoris seperti kalung, cincin, dan lain-lain. Terdapat juga aksesoris berupa dukuh panyiaram yang merupakan simbol bahwa segala sesuatu yang dilakukan wanita harus disesuaikan dengan azas lingkaran kebenaran.

Ada beragam motif perhiasan yang digunakan seperti galang rago-rago, galang bapahek, galang ula, galang basa, serta kunci maiek. Makna pemakaian perhiasan tersebut yakni wanita mempunyai berbagai batasan tertentu ketika melakukan apapun jenis aktivitasnya. Perhiasan pakaian adat Minangkabau hanya digunakan oleh wanita saja.

https://www.andalastourism.com/pakaian-adat-bundo-kanduang-minangkabau

Share:

Senin, 17 Oktober 2022

ulos

 

Ulos atau sering juga disebut kain ulos adalah salah satu busana khas Indonesia. Ulos secara turun temurun dikembangkan oleh masyarakat batak sumatra utara Dari bahasa asalnya, ulos berarti kain. Cara membuat ulos serupa dengan cara membuat songket khas palembang, yaitu menggunakan alat tenun bukan mesin.

Warna dominan pada ulos adalah merah,haitam, dan putih yang dihiasi oleh ragam tenunan dari benang emas atau perak. Mulanya ulos dikenakan di dalam bentuk selendang atau sarung saja, kerap digunakan pada perhelatan resmi atau upacara adat Batak, tetapi kini banyak dijumpai di dalam bentuk produk suvenir, sarung bantal, ikat pinggang tas, alas meja, dasi,dompet dan gorden

Ulos juga kadang-kadang diberikan kepada sang ibu yang sedang mengandung supaya mempermudah lahirnya sang baayi ke dunia dan untuk melindungi ibu dari segala mara bahaya yang mengancam saat proses persalinan.

Sebagian besar ulos telah punah karena tidak diproduksi lagi, seperti Ulos Raja, Ulos Ragi Botik, Ulos Gobar, Ulos Saput (ulos yang digunakan sebagai pembungkus jenazah), dan Ulos Sibolang.

Arti Ulos

Pengrajin ulos di Desa Huta Raja sedang menenun.

Mangulosi adalah suatu kegiatan adat yang sangat penting bagi orang batak. Dalam setiap kegiatan seperti upacara pernikahan, kelahiran, dan dukacita, ulos selalu menjadi bagian adat yang selalu diikutsertakan.

Menurut pemikiran moyang orang batak, salah satu unsur yang memberikan kehidupan bagi tubuh manusia adalah “kehangatan”. Mengingat orang-orang batak dahulu memilih hidup di dataran yang tinggi sehingga memiliki temperatur yang dingin.

Demikian juga dengan huta/kampung yang ada di daerah tapanuli umumnya dikelilingi dengan pepohonan bambu. Di mana memiliki kegunaan bukan hanya sebagai pagar untuk menjaga serangan musuh saja, tetapi juga menahan terjangan angin yang dapat membuat tubuh menggigil kedinginan.

Ada 3 hal yang di yakini moyang orang batak yang memberi kehidupan bagi tubuh manusia, yaitu: Darah, Nafas dan Kehangatan. Sehingga “rasa hangat” menjadi suatu kebutuhan yang setiap saat didambakan.

Ada 3 “sumber kehangatan” yang diyakini moyang orang batak yaitu: matahari, api dan ulos. Matahari terbit dan terbenam dengan sendirinya setiap saat. Api dapat dinyalakan setiap saat, tetapi tidak praktis digunakan untuk menghangatkan tubuh, misalnya besarnya api harus dijaga setiap saat sehingga tidur pun terganggu. Namun tidak begitu halnya dengan Ulos yang sangat praktis digunakan di mana saja dan kapan saja.

Ulos pun menjadi barang yang penting dan dibutuhkan semua orang kapan saja dan di mana saja. Hingga akhirnya karena ulos memiliki nilai yang tinggi di tengah-tengah masyarakat batak. Dibuatlah aturan penggunaan ulos yang dituangkan dalam aturan adat, antara lain:

  • Ulos hanya diberikan kepada kerabat yang di bawah kita. Misalnya Natoras tu ianakhon (orang tua kepada anak), hula-hula kepada boru, dll.
  • Ulos yang diberikan haruslah sesuai dengan kerabat yang akan diberi ulos. Misalnya Ragihotang diberikan untuk ulos kepada hela (menantu laki-laki).

Sedangkan menurut penggunaanya antara lain:

  • Siabithonon (dipakai ke tubuh menjadi baju atau sarung) digunakan ulos ragidup, sibolang, runjat, jobit dan lainnya.
  • Sihadanghononhon (diletakan di bahu) digunakan ulos Sirara, sumbat, bolean, mangiring dan lainnya.
  • Sitalitalihononhon (pengikat kepala) digunakan ulos tumtuman, mangiring, padang rusa dan lain-lain.

Saat ini kita tidak membutuhkan ulos sebagai penghangat tubuh pada saat tidur ataupun saat beraktivitas, karena ada berbagai alat dan bahan yang lebih maju untuk memberi kehangatan bagi tubuh pada saat berada dalam udara yang sangat dingin. Namun, Ulos sudah menjadi pelambang kehangatan yang sudah mengakar di dalam budaya batak.

Hal ini juga menjadi tantangan bagi budaya batak pada masa depan, karena cara pandang dan penghargaan anak-anak muda masa depan sangat berbeda dengan para orang tua yang sempat merasakan berharganya nilai ulos dalam kekerabatan. Akankah anak-anak kita memandang ulos seperti memandang “kain pada umumnya”, bahkan lebih parahnya setelah kain tersebut digunakan dalam acara adat yang melelahkan kemudian ulos tersebut tersimpan rapat dalam lemari saja.

Sangat berbeda “rasanya” dengan menggunakan setelan jas yang modis dan ingin menggunakannya lagi dan lagi begitu setiap saat.

Jangan-jangan yang terbayang dalam pikiran mereka saat melihat ulos yang tergolek dalam lemari adalah acara adat yang melelahkan, rumit adatnya, pusing karena tidak mengerti bahasa batak, malu karena tidak paham martutur (menempatkan diri dalam pertalian darah atau keturunan).

Akan sangat banyak tantangan masa depan yang akan menghimpit “niat maradat” bagi generasi muda masa depan. Seperti masalah keuangan, penggunaan waktu, perkembangan pola pikir praktis, berkurangnya “rajaparhata” (orang yang mengetahui adat dan dapat memandu kegiatan adat dari awal hingga akhir).


https://id.wikipedia.org pakaian adat ulos

Share: